“Apa
jawaban dari teka teki ini?”
“kamu mau tau? Tebak sendiri yaa”
“Aku udah nebak berkali kali tapi
selalu salah kata kamu”
“Iya nanti aku kasih jawabannya 10
tahun lagi”
“hah?
10 tahun lagi? Kamu bisa jamin kita masih ada komunikasi 10 tahun lagi?”
***
“terimakasih dokter vina atas bantuannya”
Kata kata
dari pasien terakhirku hari ini membuatku sangat lega, ahirnya aku bisa
istirahat setelah melayani berbagai macam keluhan keluhan dari pasien pasien
ku. Lelah memang terasa, namun semua itu terbayar karena senyum dari para
pasien pada akhir kunjungannya kesini. Itulah perasaan para pisikolog
sepertiku.
Kututup
pintu ruangan praktekku, ku lepaskan almamater putih yang sedari tadi menutupi
baju kemeja merah marun dan rokmini yang berwarna senada. Ku poleskan sedikit
bedak di wajahku yang sudah sangat lelah, kurapihhkan sedikit rambutku dan
kuganti high heels hitam yang sedari tadi kupakai dengan sepatu flat.
Kutinggalkan
tempat praktekku yang masih berisi dua pegawaiku yang sedang membereskan bekas praktek
hari ini. Deru mesin dari honda jazz yang kunaiki mengiringi kepergianku dari
tempat praktek. Hari ini aku ingin pulang lebih awal dan ketempat orang tuaku untuk
memenuhi janji makan malam bersama mereka.
Aku adalah
anak satu satunya dari orang tuaku, diumur yang sudah menginjak 24 tahun ini,
aku sudah tidak tinggal bersama orang tuaku lagi, aku membeli sebuah rumah yang
cukup sederhana yang berlokasi cukup dekat dengan tempat praktekku sebagai
dokter.
Remku
berdecit saat tiba tiba ada seorang anak SMP yang melintas didepanku dan hampir
saja kutabrak. Aku keluar dari mobil dan menghampirinya. Anak perempuan itu
terlihat shock, akupun menawarkan diri mengantarnya pulang. Anak itu
membimbingku menuju kerumahnya, melewati jalan jalan yang membuka kenanganku
akan masa lalu. Masa masa indah yang pernah kulewati, yang terukir dijalan ini.
Anak itu benar benar membawaku kemasa lalu, sebuah SMA dengan kokoh berdiri disamping rumah anak perempuan itu. “nanti kalau aku sudah lulus, aku mau masuk SMA ini kak, soalnya dekat dari rumah dan berkualitas pula” ucap anak itu. Siluet siluet kenangan melintas dikepalaku, akupun pamit kepada anak itu dan menancap gas mobilku menuju rumahku. Kenangan itu membuatku sempat lupa akan janjiku kepada orang tuaku, namun ada sedikit rasa bahagia yang muncul kembali dihatiku saat mengenangnya.
Anak itu benar benar membawaku kemasa lalu, sebuah SMA dengan kokoh berdiri disamping rumah anak perempuan itu. “nanti kalau aku sudah lulus, aku mau masuk SMA ini kak, soalnya dekat dari rumah dan berkualitas pula” ucap anak itu. Siluet siluet kenangan melintas dikepalaku, akupun pamit kepada anak itu dan menancap gas mobilku menuju rumahku. Kenangan itu membuatku sempat lupa akan janjiku kepada orang tuaku, namun ada sedikit rasa bahagia yang muncul kembali dihatiku saat mengenangnya.
***
Semburat
sinar matahari yang hangat menembus tirai jendela dan membangunkan ku dari
sebuah mimpi yang indah. Sudah 2 jam berlalu semenjak aku terbangun untuk
melaksanankan solat subuh, dan sekarang aku harus bersiap siap secepat kilat
agar tidak ketinggalan pesawat yang membawaku kembali ke tanah kelahiranku.
Kusibak
selimutku dan kurapikan kamar tidur apertemen ku untuk terakhir kalinya, karena
setelah hari ini aku akan sangat merindukan tempat ini. Apertemen yang tidak
terlalu bagus bahkan bisa dibilang tidak layak huni ini adalah tempat tinggalku
selama menjalani pendidikan di paris. Namun, karena minnggu kemarin aku sudah
menamatkan S2ku disini, aku berniat untuk kembali keindonesia sejenak sebelum
timbul lagi dalam peragaan busana tahun depan. Tentunya tahun depan aku tidak
akan tinggal di tempat ini lagi. Aku sudah membeli sebuah apertemen yang lebih
layak huni ketimbang apertemen ini. Namun itu berarti aku harus meninggalkan
tetangga sekaligus teman teman kuliahku yang tinggal disini.
Setelah
setengah jam menyiapkan diri, akupun sudah siap menuju bandara. Aku berdandan
seadanya, kuambil secara acak semua pakaian yang masih bias kugapai dari dalam
koperku. rambutku yang sepunggung kubiarkan tergerai bebas, dengan paduan jeans
merah yang hanya menutupi ¾ kakiku dan kaus gombrong kuning cerah yang dilapisi
sweater berwarna toska, bukan sebuah paduan yang normal, terlebih lagi karena
aku seorang desainer. Aku ucapkan selamat tinggal kepada teman teman ku, kami
pun menangis terharu. Taksi sudah menunggu ku, koperku sudah dimasukkan kedalam
bagasi, dan untuk terakhir kalinya kuucapkan selamat tinggal kepada para
penghuni apertemen kumuh ini. Aku meninggalkan apertemen ini diringi dengan
ucapan selamat tinggal oleh teman teman ku ‘Selamat tinggal zuya, datanglah
kemari jika kau senggang’.
1 komentar:
nice :D
Posting Komentar