Unperfect Girl

Sabtu, 17 November 2012

Sebuah awal

             “Apa jawaban dari teka teki ini?”
            “kamu mau tau? Tebak sendiri yaa”
            “Aku udah nebak berkali kali tapi selalu salah kata kamu”
            “Iya nanti aku kasih jawabannya 10 tahun lagi”
            “hah? 10 tahun lagi? Kamu bisa jamin kita masih ada komunikasi 10 tahun lagi?”
***
           “terimakasih dokter vina atas bantuannya”
            Kata kata dari pasien terakhirku hari ini membuatku sangat lega, ahirnya aku bisa istirahat setelah melayani berbagai macam keluhan keluhan dari pasien pasien ku. Lelah memang terasa, namun semua itu terbayar karena senyum dari para pasien pada akhir kunjungannya kesini. Itulah perasaan para pisikolog sepertiku.
            Kututup pintu ruangan praktekku, ku lepaskan almamater putih yang sedari tadi menutupi baju kemeja merah marun dan rokmini yang berwarna senada. Ku poleskan sedikit bedak di wajahku yang sudah sangat lelah, kurapihhkan sedikit rambutku dan kuganti high heels hitam yang sedari tadi kupakai dengan sepatu flat.
            Kutinggalkan tempat praktekku yang masih berisi dua pegawaiku yang sedang membereskan bekas praktek hari ini. Deru mesin dari honda jazz yang kunaiki mengiringi kepergianku dari tempat praktek. Hari ini aku ingin pulang lebih awal dan ketempat orang tuaku untuk memenuhi janji makan malam bersama mereka.
            Aku adalah anak satu satunya dari orang tuaku, diumur yang sudah menginjak 24 tahun ini, aku sudah tidak tinggal bersama orang tuaku lagi, aku membeli sebuah rumah yang cukup sederhana yang berlokasi cukup dekat dengan tempat praktekku sebagai dokter.
            Remku berdecit saat tiba tiba ada seorang anak SMP yang melintas didepanku dan hampir saja kutabrak. Aku keluar dari mobil dan menghampirinya. Anak perempuan itu terlihat shock, akupun menawarkan diri mengantarnya pulang. Anak itu membimbingku menuju kerumahnya, melewati jalan jalan yang membuka kenanganku akan masa lalu. Masa masa indah yang pernah kulewati, yang terukir dijalan ini. 
            Anak itu benar benar membawaku kemasa lalu, sebuah SMA dengan kokoh berdiri disamping rumah anak perempuan itu. “nanti kalau aku sudah lulus, aku mau masuk SMA ini kak, soalnya dekat dari rumah dan berkualitas pula” ucap anak itu. Siluet siluet kenangan melintas dikepalaku, akupun pamit kepada anak itu dan menancap gas mobilku menuju rumahku. Kenangan itu membuatku sempat lupa akan janjiku kepada orang tuaku, namun ada sedikit rasa bahagia yang muncul kembali dihatiku saat mengenangnya.



***
 
            Semburat sinar matahari yang hangat menembus tirai jendela dan membangunkan ku dari sebuah mimpi yang indah. Sudah 2 jam berlalu semenjak aku terbangun untuk melaksanankan solat subuh, dan sekarang aku harus bersiap siap secepat kilat agar tidak ketinggalan pesawat yang membawaku kembali ke tanah kelahiranku.
            Kusibak selimutku dan kurapikan kamar tidur apertemen ku untuk terakhir kalinya, karena setelah hari ini aku akan sangat merindukan tempat ini. Apertemen yang tidak terlalu bagus bahkan bisa dibilang tidak layak huni ini adalah tempat tinggalku selama menjalani pendidikan di paris. Namun, karena minnggu kemarin aku sudah menamatkan S2ku disini, aku berniat untuk kembali keindonesia sejenak sebelum timbul lagi dalam peragaan busana tahun depan. Tentunya tahun depan aku tidak akan tinggal di tempat ini lagi. Aku sudah membeli sebuah apertemen yang lebih layak huni ketimbang apertemen ini. Namun itu berarti aku harus meninggalkan tetangga sekaligus teman teman kuliahku yang tinggal disini.
            Setelah setengah jam menyiapkan diri, akupun sudah siap menuju bandara. Aku berdandan seadanya, kuambil secara acak semua pakaian yang masih bias kugapai dari dalam koperku. rambutku yang sepunggung kubiarkan tergerai bebas, dengan paduan jeans merah yang hanya menutupi ¾ kakiku dan kaus gombrong kuning cerah yang dilapisi sweater berwarna toska, bukan sebuah paduan yang normal, terlebih lagi karena aku seorang desainer. Aku ucapkan selamat tinggal kepada teman teman ku, kami pun menangis terharu. Taksi sudah menunggu ku, koperku sudah dimasukkan kedalam bagasi, dan untuk terakhir kalinya kuucapkan selamat tinggal kepada para penghuni apertemen kumuh ini. Aku meninggalkan apertemen ini diringi dengan ucapan selamat tinggal oleh teman teman ku ‘Selamat tinggal zuya, datanglah kemari jika kau senggang’.
            Aku pun menaiki taksi yang akan membawaku menuju ke bandara. Taksi pun berjalan, aku terus memandangi apertemen itu sampai tidak bisa terlihat lagi. Mungkinkah aku akan menemukan keluarga seperti mereka diapertemen yang lain?. Deru mesin taksi yang memecahkan telinga perlahan menjadi samar dikarenakan hujan yang mengguyur kota paris, hujan deras yang ditemani guntur dan kilat mewarnai perjalanan ku menuju bandara. Rem taksi berdecit saat berhenti di depan pintu masuk bandara. Setelah semua barangku keluar dari bagasi, akupun melenggang masuk kebandara tanpa perduli dengan tatapan aneh dari orang orang disekitarku, mungkin padupadan pakaian yang ku kenakan sungguh tak mengenakkan mata mereka.

1 komentar:

Posting Komentar