Unperfect Girl

Kamis, 28 Februari 2013

Sebuah Awal II

“Ma, selamat ulang tahun yaa ma, maaf dika gak bisa pulang kejakarta, dika lagi sibuk ma”
            Seusai menelpon, aku pun keluar dari bandara. Aku berada dijakarta sekarang untuk merayakan ulang tahun seorang malaikat yang selalu menyertaiku dan memberikan semangat padaku. Iya, ibuku. Aku dan kakak ku menyiapkan sebuuah kejutan untuknya. Aku mengcancel semua pekerjaanku dibandung dan kembali ke jakarta, sama seperti kakak ku yang terbang dari Amerika. Aku menunggunya di depan bandara. Sungguh lama sekali pesawatnya sampai.
            Akhirnya pesawat sampai, dengan sweater hitam dan jeans hitam panjang kakak ku menghampiri ku, raut mukanya menunjukkan bahwa ia sangat bosan dengan perjalanannya. Tanpa perlu basa basi kamipun berjalan keluar bandara, takut terlalu malam sampai dirumah tercinta kami. Ibuku sudah tak terlalu kuat untuk tidur larut malam, namun itu tidak mengurangi nilai kekuatannya dimataku.
            “hei dik, liat geh ada orang aneh disitu” bisik kakakku kepadaku.
            Kulihat seorang wanita dengan pakaian dengan padupadan warna yang sangat merusak mata sedang berdiri didepan pintu keluar bandara, ia tampak sedang mencari taksi. Mungkin ia tak pernah mengerti fashion, kukatakan itu dari model berbusananya yang sudah sangat ketinggalan eranya.
            Buk
            Betapa terkejutnya aku saat seseorang menabrak ku dengan kecepatan tinggi, sepertinya orang ini sedang berlari mengejar sesuatu. Kubuka mataku yang sepontan terpejam karena kejadian tadi.
            “dik, lo gak apa apa kan?” tanya kakakku
            “gapapa kok kak” jawabku sambil tertunduk dan memegangi punggungku yang sakit tertabrak. Ku dongakkan kepalaku, kulihat manusia yang baru saja memberi rasa nyeri di tubuh ini. Kuning, merah, toska itu yang kulihat.
***
            Sungguh sial diriku, pesawatku didelay berjam-jam di prancis karena hujan, sesampainya dijakarta, aku sudah langsung disambut para tangan panjang. Hati hendak mengejar tersangka yang merampas kalung emasku, tapi malah aku yang jatuh menabrak pemuda berbadan besar ini. Ternyata jakarta makin berkembang dibidang rapas merampas, tanpa ku ketahui sudah hilang kalung yang mlingkar di leher ku ini, ditambah dengan kecepatan jambret yang mengalahkan pelari sprint di olimpiade, dan juga kelihaian tangan yang mengalahkan para pesulap di tivitvi. Aku heran kenapa Indonesia tidak pernah mendapatkan bendali sprint, padahal penduduknya kebanyakan bisa berlari secepat kilat.
            Aku meringis memegangi bokongku yang sangat sakit karena terhempas kelantai, kulihat mata pria itu tertuju padaku dengan pandangan tidak senang. Aku pun berdiri lalu minta maaf kepada pria itu, namun tak ada balasan darinya. Kuputuskan untuk pergi sebelum barang barang yang kutinggalkan keburu dikampas para sprinter handal lagi.
***
            “Vina, si temenmu bermain boneka berbie saat kamu kecil akan menikah loh minggu depan” kata mamaku saat aku sedang duduk diteras rumah memandagi langit malam.
            “siapa mah?” tanyaku heran
            “itu si dian loh, tetangga kita” Jawab mamah sambil menunjuk rumah bertembok coklat muda dengan pagar besi yang menjulang tinggi yang tepat berada disamping rumah ku. Tetangga yang dulu suka berbagi boneka dengan ku ternyata akan dipinang kekasih hatinya minggu depan. Iya minggu depan, padahal umurnya satu tahun dibawah umurku. Terpikir olehku untuk mencari menantu buat mamah dan papah. Melihat akulah anak mereka satu satunya, mereka pasti sangat menantikan kehadikan cucu mereka. Mungkin aku harus lebih memikirkan lagi masalah pendamping hidup. Akukan tidak mau dibilang gadis tua oleh para tetangga tetanggaku.
            Lagi lagi kenangan yang muncul saat perjalanan menuju kemari merasuki pikiranku, masa SMA.  Hatiku mulai berdegup dikala mengingat seorang cowok yang menimbulkan letupan letupan kembang api dihatiku saat itu. Namun ia tak pernah tau perasaanku kepadanya. Aku terlalu malu untuk mengakui perasaan ini. Postur tubuhnya yang sempurna, dengan rambut lurus yang dibelah pinggir, wajah yang diatas rata rata, keluarga yang sangat berkecukupan dan juga kecerdasan yang dimilikinya membuatku ragu untuk mengatakan perasaanku terhadapnya. Ia terlalu baik untukku yang sangat setandar saat itu.
            Pernah tarsirat dihatiku untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Dengan sikapnya yang begitu baik terhadapku, selalu bersedia menolongku, membuat ku yakin ia merasakan perasaan yang sama terhadapku. Namun setelah beberapa waktu akupun tersadar, bahwa harus kugaris bawahi sebenarnya dia baik kepada setiap orang, setiap makhluk hidup, bukan hanya aku seorang. Aku boleh bahagia saat suatu hari ia mengantarku pulang kerumah selepas dari sekolah, namun harus kubuang perasangka bahwa ia suka padaku saat kudapati dia mengantar gadis gadis lain pulang dengan muka yang menyiratkan kebahagiaan. Ia memang sangat baik.
***
            “aku janji” kataku halus sembil mengacak rambut  gadis yang diam diam kusukai ini.
            “gimanana kalau kamu lupa?” tanyanya kepadaku lagi.
            “tenang aja aku gak akan lupa” jawabku disertai senyum yang kuharap dapat membantuku mendapatkan kepercayaan darinya. Ia tidak bertanya lagi, ia mengalihkan pandanganya dariku dan memandang langit senja yang indah. Senja terakhirnya dikotaini.
            “jangan lupain aku ya dik, aku pasti kembali lagi”  katanya sembari tersenyum namun tak mengalihkan pandanganya dari mentari. Kurangkul pundaknya halus sambil berkata
            “sahabat sekarang, sahabat selamanya” iyapun memandangku sambil tersenyum. Senja yang terindah yang pernah kulewati, diatas gedung sekolah yang mempertemukan kami.
            Kamipun pulang saat senja benar benar akan berakhir. Setelah mengantarkan pujaan hatiku kerumahnya, akupun segera pulang, rumahku hanya 1 blok dari rumahnya. Saat hendak turun mobil, kulihat secarik kertas yang ada di jok tempat duduk tuan putri tadi. Didepannya tertulis “Adika nial pratama, kau sahabat terbaikku”

0 komentar:

Posting Komentar