“Ma, selamat ulang tahun yaa ma, maaf dika gak bisa pulang
kejakarta, dika lagi sibuk ma”
Seusai
menelpon, aku pun keluar dari bandara. Aku berada dijakarta sekarang untuk
merayakan ulang tahun seorang malaikat yang selalu menyertaiku dan memberikan
semangat padaku. Iya, ibuku. Aku dan kakak ku menyiapkan sebuuah kejutan
untuknya. Aku mengcancel semua pekerjaanku dibandung dan kembali ke jakarta,
sama seperti kakak ku yang terbang dari Amerika. Aku menunggunya di depan
bandara. Sungguh lama sekali pesawatnya sampai.
Akhirnya
pesawat sampai, dengan sweater hitam dan jeans hitam panjang kakak ku
menghampiri ku, raut mukanya menunjukkan bahwa ia sangat bosan dengan
perjalanannya. Tanpa perlu basa basi kamipun berjalan keluar bandara, takut
terlalu malam sampai dirumah tercinta kami. Ibuku sudah tak terlalu kuat untuk
tidur larut malam, namun itu tidak mengurangi nilai kekuatannya dimataku.
“hei dik, liat geh ada orang aneh disitu” bisik kakakku kepadaku.
Kulihat seorang wanita dengan pakaian dengan padupadan warna yang sangat merusak mata sedang berdiri didepan pintu keluar bandara, ia tampak sedang mencari taksi. Mungkin ia tak pernah mengerti fashion, kukatakan itu dari model berbusananya yang sudah sangat ketinggalan eranya.
“hei dik, liat geh ada orang aneh disitu” bisik kakakku kepadaku.
Kulihat seorang wanita dengan pakaian dengan padupadan warna yang sangat merusak mata sedang berdiri didepan pintu keluar bandara, ia tampak sedang mencari taksi. Mungkin ia tak pernah mengerti fashion, kukatakan itu dari model berbusananya yang sudah sangat ketinggalan eranya.
Buk
Betapa terkejutnya aku saat seseorang menabrak ku dengan kecepatan tinggi, sepertinya orang ini sedang berlari mengejar sesuatu. Kubuka mataku yang sepontan terpejam karena kejadian tadi.
“dik, lo gak apa apa kan?” tanya kakakku
Betapa terkejutnya aku saat seseorang menabrak ku dengan kecepatan tinggi, sepertinya orang ini sedang berlari mengejar sesuatu. Kubuka mataku yang sepontan terpejam karena kejadian tadi.
“dik, lo gak apa apa kan?” tanya kakakku
***
Sungguh sial
diriku, pesawatku didelay berjam-jam di prancis karena hujan, sesampainya
dijakarta, aku sudah langsung disambut para tangan panjang. Hati hendak
mengejar tersangka yang merampas kalung emasku, tapi malah aku yang jatuh
menabrak pemuda berbadan besar ini. Ternyata jakarta makin berkembang dibidang
rapas merampas, tanpa ku ketahui sudah hilang kalung yang mlingkar di leher ku
ini, ditambah dengan kecepatan jambret yang mengalahkan pelari sprint di
olimpiade, dan juga kelihaian tangan yang mengalahkan para pesulap di tivitvi.
Aku heran kenapa Indonesia tidak pernah mendapatkan bendali sprint, padahal
penduduknya kebanyakan bisa berlari secepat kilat.
Aku
meringis memegangi bokongku yang sangat sakit karena terhempas kelantai,
kulihat mata pria itu tertuju padaku dengan pandangan tidak senang. Aku pun
berdiri lalu minta maaf kepada pria itu, namun tak ada balasan darinya.
Kuputuskan untuk pergi sebelum barang barang yang kutinggalkan keburu dikampas
para sprinter handal lagi.
***
“Vina, si
temenmu bermain boneka berbie saat kamu kecil akan menikah loh minggu depan”
kata mamaku saat aku sedang duduk diteras rumah memandagi langit malam.
“siapa mah?”
tanyaku heran
“itu si dian
loh, tetangga kita” Jawab mamah sambil menunjuk rumah bertembok coklat muda
dengan pagar besi yang menjulang tinggi yang tepat berada disamping rumah ku.
Tetangga yang dulu suka berbagi boneka dengan ku ternyata akan dipinang kekasih
hatinya minggu depan. Iya minggu depan, padahal umurnya satu tahun dibawah
umurku. Terpikir olehku untuk mencari menantu buat mamah dan papah. Melihat
akulah anak mereka satu satunya, mereka pasti sangat menantikan kehadikan cucu
mereka. Mungkin aku harus lebih memikirkan lagi masalah pendamping hidup.
Akukan tidak mau dibilang gadis tua oleh para tetangga tetanggaku.
Lagi lagi
kenangan yang muncul saat perjalanan menuju kemari merasuki pikiranku, masa
SMA. Hatiku mulai berdegup dikala
mengingat seorang cowok yang menimbulkan letupan letupan kembang api dihatiku
saat itu. Namun ia tak pernah tau perasaanku kepadanya. Aku terlalu malu untuk
mengakui perasaan ini. Postur tubuhnya yang sempurna, dengan rambut lurus yang
dibelah pinggir, wajah yang diatas rata rata, keluarga yang sangat berkecukupan
dan juga kecerdasan yang dimilikinya membuatku ragu untuk mengatakan perasaanku
terhadapnya. Ia terlalu baik untukku yang sangat setandar saat itu.
Pernah
tarsirat dihatiku untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Dengan sikapnya yang
begitu baik terhadapku, selalu bersedia menolongku, membuat ku yakin ia
merasakan perasaan yang sama terhadapku. Namun setelah beberapa waktu akupun
tersadar, bahwa harus kugaris bawahi sebenarnya dia baik kepada setiap orang,
setiap makhluk hidup, bukan hanya aku seorang. Aku boleh bahagia saat suatu
hari ia mengantarku pulang kerumah selepas dari sekolah, namun harus kubuang
perasangka bahwa ia suka padaku saat kudapati dia mengantar gadis gadis lain
pulang dengan muka yang menyiratkan kebahagiaan. Ia memang sangat baik.
***
“aku janji” kataku halus sembil mengacak
rambut gadis yang diam diam kusukai ini.
“gimanana kalau kamu lupa?” tanyanya
kepadaku lagi.
“tenang aja aku gak akan lupa”
jawabku disertai senyum yang kuharap dapat membantuku mendapatkan kepercayaan
darinya. Ia tidak bertanya lagi, ia mengalihkan pandanganya dariku dan
memandang langit senja yang indah. Senja terakhirnya dikotaini.
“jangan lupain aku ya dik, aku pasti
kembali lagi” katanya sembari tersenyum
namun tak mengalihkan pandanganya dari mentari. Kurangkul pundaknya halus
sambil berkata
“sahabat sekarang, sahabat selamanya” iyapun memandangku sambil tersenyum. Senja yang terindah yang pernah kulewati, diatas gedung sekolah yang mempertemukan kami.
“sahabat sekarang, sahabat selamanya” iyapun memandangku sambil tersenyum. Senja yang terindah yang pernah kulewati, diatas gedung sekolah yang mempertemukan kami.
Kamipun pulang saat
senja benar benar akan berakhir. Setelah mengantarkan pujaan hatiku kerumahnya,
akupun segera pulang, rumahku hanya 1 blok dari rumahnya. Saat hendak turun
mobil, kulihat secarik kertas yang ada di jok tempat duduk tuan putri tadi.
Didepannya tertulis “Adika nial pratama, kau sahabat terbaikku”
0 komentar:
Posting Komentar